Jumat, 03 Juni 2016

Syariah Marketing Value dan Pentingnya service dalam Syariah

A. Syariah Marketing Value
Syariah Marketing Value• Value bertujuan untuk merebut tempat di hatipelanggan (how to create an emotions touch).• Pergeseran selera pelanggan dimana fitur danbenefit tidak cukup lagi untuk memuaskanpelanggan.• Value è penanaman nilai2 yang makin lama makinbermutu, meningkatkan value added bagipelangganè layanan memuaskan akan membuatnama perusahaan semakin bergengsi dan menjadikebanggaan pelanggannya.• Value è harus disusun berdasarkan karakteristiksyariah.


B. Pentingnya Service dalam Syariah Marketing
Pengertian Marketing Syariah
Pemasaran dalam Islam adalah bentuk muamalah yang dibenarkan dalam Islam, sepanjang dalam segala proses transaksinya terpelihara dari hal-hal terlarang oleh ketentuan syariah. Sedangkan menurut Kertajaya dan Sula Syariah marketing adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran dan perubahan value dari suatu inisiator kepada stakeholders-nya, yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah (bisnis) dalam Islam. Definisi ini didasarkan pada salah satu ketentuan dalam bisnis Islam yang tertuang dalam kaidah fiqih yang mengatakan, “Al-muslimuna „ala syurutihim illa syarthan harrama halalan awahalla haraman” (kaum muslimin terikat dengan kesepakatan-kesepakatan bisnis yang mereka buat, kecuali kesepakatan yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram). Selain itu, kaidah fiqih lain mengatakan “ Alashlu fil-muamalah al-ibahah illa ayyadulla dalilun „ala tahrimiha” (pada dasarnya semua bentuk muamalah [bisnis] boleh dilakukan kecuali ada dali yang mengharamkannya).

Ini berarti bahwa dalam marketing syariah, seluruh proses, baik proses penciptaan, proses penawaran, maupun proses perubahan nilai (value), tidak boleh ada hal-hal yang bertentangan dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah yang Islami. Sepanjang hal tersebut dapat dijamin, dan penyimpangan prinsip-prinsip muamalah Islami tidak terjadi dalam suatu transaksi apapun dalam pemasaran dapat dibolehkan. Allah mengingatkan agar senantiasa menghindari perbuaran zalim dalam berbisnis termasuk dalam proses penciptaan, penawaran dan proses perubahan nilai dalam pemasaran.



Sustainable syariah Marketing dan Syariah marketing strategi, taktik

A. Sustainable Syariah Marketing
Hal-Hal perlu dipertimbangkan sebelum menerapkan Strategi Pemasaran Produk
Menerapkan Strategi pemasaran di awali dengan menganalisa secara keseluruhan dari situasi perusahaan Pemasar harus melakukan analisis SWOT (SWOT analysis), di mana ia menilai kekuatan (strengths [S]), kelemahan (weaknesses [W]), peluang (opportunities [O]), dan ancaman (threats [T]) perusahaan secara keseluruhan
  • Kekuatan (Strengths) meliputi kemampuan internal, sumber daya, dan faktor situasional positif yang dapat membantu perusahaan melayani pelanggannya dan mencapai tujuannya
  • Kelemahan (Weaknesses) meliputi keterbatasan internal dan faktor situasional negatif yang dapat menghalangi performa perusahaan
  • Peluang (Opportunities) adalah faktor atau tren yang menguntungkan pada lingkungan eksternal yang dapat digunakan perusahaan untuk memperoleh keuntungan
  • Dan ancaman (Threats) adalah faktor pada lingkungan eksternal yang tidak menguntungkan yang menghadirkan tantangan bagi performa perusahaan 
Strategi Pemasaran berorientasi menciptakan nilai tambah bagi pelanggan dan membangun hubungan relationship dengan pelanggan
Menciptakan nilai tambah dengan memahami kebutuhan pasar meliputi keinginan pelanggan, melakukan riset pelanggan dan pasar, menata informasi pemasaran dan data pelanggan, membangun metode pemasaran yang terintegrasi dan memberikan nilai tambah, membangun hubungan yang saling menguntungkan dalam menciptakan kepuasan pelanggan 


Faktor utama yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam Strategi Pemasaran
Dalam strategi pemasaran, ada bebarapa faktor utama yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan yaitu :
  1. Siklus Daur hidup produk, Strategi harus disesuaikan dengan tahap-tahap daur hidup, yaitu tahap perkenalan, tahap pertumbuhan, tahap kedewasaan dan tahap kemunduran.
  2. Tingkat persaingan perusahaan di pasar, Strategi pemasaran harus bisa disesuaikan dengan posisi perusahaan dalam tingkat persaingan, apakah dalam kategori memimpin, menantang, mengikuti atau hanya mengambil sebagian kecil dari ceruk pasar.
  3. Keadaan ekonomi, Strategi pemasaran harus disesuaikan dengan situasi ekonomi, perusahaan harus memandang ke depan dan mengembangkan strategi jangka panjang untuk memenuhi kondisi yang sedang berubah dalam industri mereka dan memastikan kelangsungan perusahaan pada jangka panjang


Langkah-Langkah Penerapan Strategi Pemasaran
Penerapan Strategi Pemasaran melalui langkah-langkah sebagai berikut: 
  • Segmentasi Pasar (Market Segmentation), adalah tindakan membagi pasar menjadi kelompok pembeli berbeda dengan kebutuhan, karakteristik, atau perilaku berbeda yang mungkin memerlukan produk atau bauran pemasaran terpisah
  •  Penetapan Target Pasar (Market Targeting), yaitu proses mengevaluasi daya tarik masing-masing segmen pasar dan memilih satu atau lebih segmen yang akan dilayani, penetapan sasaran pasar terdiri dari merancang strategi untuk membangun hubungan yang benar dengan pelanggan yang tepat, atau sebuah perusahaan besar mungkin memutuskan untuk menawarkan ragam produk yang lengkap dalam melayani seluruh segmen pasarnya, sebagian besar perusahaan memasuki pasar baru dengan melayani segmen tunggal, dan jika hal ini terbukti berhasil, mereka menambahkan segmen
  • Diferensiasi dan Posisi Pasar (Differentiation & Positioning),perusahaan harus memutuskan bagaimana mendifferensiasikan penawaran pasarnya untuk setiap segmen sasaran dan posisi apa yang ingin ditempatinya dalam segmen tersebut, posisi produk adalah tempat yang diduduki produk relatif terhadap pesaingnya dalam pikiran konsumen, pemasar ingin mengembangkan posisi pasar unik bagi produk mereka. Jika sebuah produk dianggap sama persis dengan produk lainnya di pasar,  konsumen tidak mempunyai alasan untuk membelinya. 


Mengembangkan Strategi Pemasaran dan Bauran Pemasaran Terintegrasi
Bauran pemasaran terdiri dari semua hal yang dapat dilakukan perusahaan untuk mempengaruhi permintaan akan produknya yang terdiri dari “empat P” yaitu:
  • Produk (product) , kombinasi barang dan jasa yang ditawarkan perusahaan kepada pasar sasaran meliputi : ragam, kualitas, gesain. fitur, nama merek,  dan kemasan.
  • Harga (price), adalah sejumlah uang yang harus dibayarkan pelanggan untuk memperoleh produk meliputi: daftar harga, diskon potongan harga, periode pembayaran, dan persyaratan kredit
  • Tempat (place), kegiatan perusahaan yang membuat produk tersedia bagi pelanggan sasaran meliputi: Lokasi, saluran distribusi, persediaan, transportasi dan logistik
  • Promosi (promotion) berarti aktivitas yang menyampaikan manfaat produk dan membujuk pelanggan membelinya meliputi : Iklan dan promosi penjualan.
Program pemasaran yang efektif harus dapat memadukan semua elemen bauran pemasaran ke dalam suatu program pemasaran terintegrasi yang dirancang untuk mencapai tujuan pemasaran perusahaan dengan menghantarkan nilai bagi konsumen.

Sebelum membangun dan menerapkan 4 P diatas, pemasar sebaiknya memikirkan terlebih dahulu “empat C” seperti yang diungkapkan oleh Ir. Fl. Titik Wijayanti, MM, dalam bukunya Marketing Plan! Perlukah Managing Marketing Plan? yang terdiri dari:
  • Solusi Pelanggan (Customer Solution), Produk dapat membantu dan mampu memecahkan masalah konsumen
  • Biaya Pelanggan (Customer Cost), Harga yang dibayarkan konsumen untuk membeli produk tersebut sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
  • Kenyamanan (Convenience), Produk tersebut mampu menyenangkan konsumen karena mudah diperoleh di mana-mana
  • Komunikasi (Communication), Produsen melakukan komunikasi produk kepada konsumen secara benar dan tepat sasaran.
B. Syariah Marketing Strategi dan  Taktik
Profesor Philip Kothler, salah satu pakar marketing yang terkemuka, dalam bukunya Marketing Management, mendefinisikan bahwa pemasaran adalah sebuah proses sosial  dan manajerial di mana individu-individu dan kelompok-kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui penciptaan, penawaran, dan pertukaran produk-produk yang bernilai.
Menurut American Marketing Asociation, pemasaran adalahsuatu proses perencanaan dan eksekusi, mulai dari tahap konsepsi, pentapan harga, promosi, hingga distribusi barang-barang, ide-ide, jasa-jasa, untuk melakukan pertukaran yang memuaskan individu dan lembaga-lembaganya.
Selain itu ada juga definisi lain yaitu Marketing is a strategic business discipline that directs the process of creating, offering, and changing value from one initiator to its stakeholders.(Pemasaran adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaaan, penawaran, dan perubahan values dari satu inisiator kepada stakeholders-nya).

Hermawan Kartajaya memberikan gagasan tentang pemasaran yang disebutnya dengan Ultimate Philosophy of Marketing yang memiliki tiga unsur, yaitu:
·      Vision
Pemasaran haruslah sebuah konsep bisnis strategis yang ditujukan untuk menjamin kepuasan yang berkelanjutan kepada tiga stakeholder utama yaitu pelanggan, karyawan, dan shareholder.
·      Mission
Pemasaran harus menjadi jiwa dari sebuah perusahaan sehingga setiap orang dalam perusahaan akan menjadi pemasar.


·      Values
Tiga prinsip nilai yang dianut setiap perusahaan adalah; pertama, merek yang lebih berharga daripada produk; kedua, shareholder harus memperlakukan bisnis mereka sebagai servis; ketiga, setiap orang di dalam organisasi harus terlibat dalam proses pemuasan pelanggan  baik secara langsung maupun tidak dan tidak pada fungsi tertentu.
Jadi, Pemasaran Syariah adalah sebuah disiplin bisnis strategis yang mengarahkan proses penciptaan, penawaran, dan perubahan values dari satu inisiator kepada stakeholder-nya yang dalam keseluruhan prosesnya sesuai dengan akad dan prinsip-prinsip muamalah dalam Islam. Di dalam Al-Quran surat Shood ayat 24 , Allah mengingatkan kita agar senantiasa menghindari perbuatan zhalim dalam bisnis,
Konsep pemasaran ini disebut sebagai  Syariah Marketing Strategy untuk memenangkan  Mind-ShareSyariah Marketing Tactic untuk memenangkan  Market-share, dan Syariah Marketing Value dalam memenangkan  Heart-Share.
Dengan Syariah Marketing Strategy, dapat dilakukan pemetaan pasar berdasarkan  ukuran pasar,  pertumbuhan pasar, keunggulan kompetitif, dan situasi  persaingan.  Setelah membidik pasar rasional  yang sangat potensial tersebut, selanjutnya adalah melakukan positioning yang solid di benak pelanggan.
Setelah menyusun strategi, lalu melakukan  Syariah Marketing Tactic untuk memenangkan  Market Share. Mengapa? Karena jikapositioning dibenak pelanggan telah kuat, maka perlu melakukan diferensiasi yang mencakup apa yang ditawarkan  (content), bagaimana  menawarkan (context), dan apa infrastruktur  dalam proses menawarkannya.
Langkah selanjutnya adalah menerapkan diferensiasi secara kreatif dan inovatif dengan menggunakan Marketing-Mix (price, product, place, promotion,). Selain itu penting juga melakukanselling dalam meningkatkan  hubungan dengan pelanggan sehingga mampu menghasilkan  keuntungan finansial.
Terakhir, semua strategi dan taktik yang sudah di rancang akan berjalan optimal jika disertai dengan peningkatan value dari produk atau jasa




Jumat, 15 April 2016

Pendekatan permasalahan syariah dan membangun bisnis dengan nilai syariah


Nama       : Meytha LAelasari
Npm        : 36214615
Kelas       : 2dd02
Dosen      : Supriyo Hartadi W
A. Pendekatan Permasalahan Syariah

1.       Berbisnis dengan konsep syariah
Konsep tersebut menurutnya tidak terlepas dari pengalaman hidupnya, terlebih sejak dia mengenal hukum-hukum Islam termasuk yang berlandaskan Alquran dan Hadis di tahun 2003. Sejak itu, dia memutuskan mengubah pola bisnis yang di jalan-kannya. Konsep ini memang sempat membuat salah satu usahanya di Aceh mengalami penurunan drastis, namun hal tersebut tidak membuat Chaidil menyerah. Saat itu sekitar awal tahun 2000-an, dia menerapkan konsep kafe lengkap dengan hiburan berupa live music Di antara beberapa konsep syariah yang dilakukannya adalah selalu menutup toko di saat memasuki waktu salat Konsep inilah yang kemudian membuat dia menerapkan konsep take away`


2.      Berbisnis dengan Qolbu
Berbisnis jangan dengan nafsu tapi dengan hati yang bersih. DBS hanya sebagai alat saja untuk mencapai finansial yang aman dan dalam rangka membangun ekonomi umat yang akhir-akhir ini sangat mengkhawatirkan.

Pertama, kita diciptakan oleh Allah untuk menjadikan segala aktifitas kita sebagai ibadah. Itu artinya bisnis bagi kita adalah ibadah, bukan semata – mata mencari uang.
Kedua, tugas hidup kita menjadi khalifah. Kita diberi kesempatan hidup di dunia satu kali oleh karena itu kita harus berkarya seoptimal mungkin, sehingga saat kematian kita kelak adalah puncak kita berkarya dalam hidup ini yang bermanfaat bagi peradaban manusia, mensejahterakan diri dan mensejahterakan orang lain.
Ketiga, tugas kita dalam bahasa agama disebut dakwah. Artinya apapun aktifitas yang kita lakukan harus menjadi pencerminan pribadi pribadi yang menjadi teladan dalam kebenaran. ini penting, ibadah, khalifah dan dakwah. Saudaraku, ada orang yang sibuk dengan membanting tulang demi mencari sesuap nasi. Ini rugi, sudah tulang yang dibanting hanya sesuap yang dicari.
Yang namanya untung itu kalau bisnis ini menjadi amal. karena kita semua pasti mati dan yang dibawa ke akhirat itu bukan uangnya tapi amalnya. Oleh karena itu sejak mulai dari niat harus benar kalau niat sudah salah, cara juga salah, tindakan kita tidak akan menjadi amal walaupun mungkin menghasilkan uang. Namun untuk apa itu semua, karena uang tidak bisa kita bawa mati.

Kedua, yang disebut untung adalah, kalau dalam bisnis, nama kita menjadi semakin lebih baik. Nabi Muhammad itu benar – benar menjadi orang yang sangat credible, Al Amien seorang yang sangat – sangat terpercaya. Orang tidak ragu saja kepada perkatannya. Makanya bagi kami bisnis itu kecil, tapi nama baik itu yang sangat penting

Ketiga, yang namanya untung itu ketika dalam bisnis, kita bisa manambah ilmu, karena tanpa penambahan ilmu, pengalaman dan wawasan, keuntungan yang didapat bisa menjadi bumerang. Segalanya berubah dalam hidup ini, bagaimana mungkin menyikapinya tanpa kemampuan yang berubah. Saat ini untung, tapi besok lusa bisa jadi keuntungan ini akan menjadi sumber kerugian. Makanya keuntungan berupa uang yang tidak meng - upgrade diri kita, itu sebetulnya tidak untung.
Yang keempat, keuntungan adalah ketika dengan bisnis, menambah silaturahmi, menambah saudara, karena persaudaraan itu mahal. Dan yang kelima, yang disebut keuntungan bagi bisnis yang bernuansa religi adalah bagaimana dengan bisnis makin banyak orang yang mendapatkan keuntungan. Karena setiap orang yang beruntung, yang menjadi bagian dari bisnis kita, itu akan menjadikan kebagian diri kita pula.

            3.  9 Etika Pemasaran
Dalam Islam terdapat sembilan macam etika (akhlak) yang harus dimiliki seorang tenaga pemasaran. Yaitu: (1) Memiliki kepribadian spiritual (taqwa); (2) Berkepribadian baik dan simpatik (shiddiq); (3) Berlaku adil dalam berbisnis (al-’adl); (4) Melayani nasabah dengan rendah hati (khitmah); (5) Selalu menepati janji dan tidak curang (tahfif); (6) Jujur dan terpercaya (amanah); (7) Tidak suka berburuk sangka; (8) Tidak suka menjelek-jelekkan; dan (9) Tidak melakukan suap (risywah).

B.     Membangun Bisnis dengan nilai-nilai syariah

1.      Membangun Nilai Kejujuran dalam Bisnis
Oleh karena itu, sifat terpenting bagi pembisnis yang diridhoi aullah adalah kejujuran. Dalam sebuah hadis dikatakan : “ pedagang yang jujur dan dapat dipercaya (penuh amanah ) adalah bersama para nabi, orang orang membenarkan risalah nabi (syahiddiqin) dan para syuhada orang yang mati syahid). (“ HR Al – Tirmidzi).
            Kejujuran ini merupakan factor penyebab keberkahan bagi pedagang dan pembeli, sebagaimana tersebut dalam sebuah hadis sahih, “ penjual dan pembeli mempunyai hak untuk menentukan pilihan selama belum masih berpisah. jika keduanya berlaku jujur dan menjelaskan yang sebenarnya, diberkatilah transaksi mereka. Namun, jika keduanya saling menyembunyikan kebenaran dan berdusta, keduanya bias jadi mendapatkan keuntungan tetapi melenyapkan keberkahan transaksinya “( HR Muttafaq’Alaih dan Hakim ibn Hizam ).

            Kedustaan yang paling tercela adalah jika diiringi dengan sumpah kepada Allah Ta’ala. Inilah sumpah bohong, sumpah jahat, atau sumpah al – ghamus ( pejerumusan) yang menjemuskan pelakunya kedalam dosa di bdunia neraka di akhirat.syariah membenci banyaknya bersumpah dalam berdagang meskipun ia jujur, karena didalam sumpah ada unsure pelecehan nama allah. Orang yang banyak melakuakanya dikhawatirkan akan terjerumus dalam kebohongan. Apalagi jika sumpah tersebut memeng bohong. Rasullulah bersabda “ empat golongan yang dibenci oleh allah : penjual yang banyak bersumpah, orang miskin yang sombong, orang tua yang berzina, dan pemimpin yang durjanah” ( HR Al- Nasa’I dan ibn Hibban)

            Al – quran memerintahkan pada manusia untuk jujur, tulus, ikhlas, dan benar dalam semua perjalanan hidupnya, dan ini sangat dituntut dalam bidang bisnis syariah. Jika penipuan dan tipu daya dikutuk dan dilarang, maka kejujuran tidak hanya diperintahkan, tetapi dinyatakan sebagai keharusan yang mutlak.
Sikap kejujuran akan terlihat dalam kemempuan dan menjalankan amanah – amanah dalam sikap kepercayaan yang diberikan kepadanya. Firman Allah SWT.

 “ Hai orang – orang yang beriman, janganlah kamu menghianati Allah dan Rasul ( Muhamad ) dan janganlah  kamu menghianati amanat – amanat yang dipercayakan kepadamu, sedangkan kamu mengetahui ( QS Al- Anfal [8] : 27 ).
Oleh karena itu, prinsip amanah yang menjujung tinggi kejujuran tersebut harus disertai dengan profesionalisme. Profesionalisme adalah bagian yang penting dari prinsip amanah dan muamalah.Al-Quran mengajarkan dalam suatu kisah yang sangat menarik, ketika putri Nabi syu’aib memohon kepada ayahhandanya agar berkenaan memperkerjakan Sayyidina Musa a.s., sebagai sosok pemuda yang qawi   ( kuat / professional ).
 Firman Allah Swt , “ wahai ayahandaku, ambilah dia sebagai orang yang bekerja ( pada usaha kita ), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja ( pada kita ) ialah orang yang paling kuat  (professional ) lagi terpercaya ( amanah )” ( QS Al- Qashash [ 28]:26 )

2.      Keadilan Keserakahan
Etika Bisnis Syariah
Berikut adalah nilai-nilai etika islam yang dapat mendorong bertumbuhnya dan suksesnya bisnis yaitu:
1) Konsep Ihsan
Ihsan adalah suatu usaha individu untuk sungguh-sungguh bekerja keras tanpa kenal menyerah dengan dedikasi penuh menuju optimalisasi, sehingga memperoleh hasil maksimal.

2) Itqan
Artinya berbuat sesuatu dengan teliti dan teratur. Jadi harus bisa menjaga kualitas sehingga hasilnya maksimal
3) Konsep hemat
4) Kejujuran dan Keadilan
5) Kerja Keras
Terdapat beberapa hal penting terkait dengan dasar etika dalam bisnis syariah, yaitu menyangkut: janji, utang piutang, tidak boleh menghadang orang desa ke perbatasan kota, kejujuran dalam jual beli, ukuran takaran dan timbangan, perilaku hemat, masalah upah, mengambil hak orang lain, memelihara bumi, perintah berusaha dan batasan pengumpulan harta.

Prioritas-prioritas yang harus didahulukan adalah:
1) Mendahulukan mencari pahala yang besar dan abadi di akhirat ketimbang keuntungan kecil dan terbatas yang ada di dunia;
2) Mendahulukan sesuatu yang secara moral bersih daripada sesuatu yang secara moral kotor, meskipun akan mendatangkan keuntungan yang lebih besar;
3) Mendahulukan pekerjaan yang halal daripada yang haram;
4) Mendahulukan bisnis yang bermanfaat bagi alam dan lingkungan sekitarnya daripada bisnis yang merusak tatanan yang telah baik.
dalam segala hal termasuk dalam bidang ekonomi/bisnis. Begitu juga bertanggung jawab atas kebebasan dalam bisnis
3.      Sifa-sifat yang membangun dalam mengelola bisnis
6 langkah yang dapat Anda terapkan untuk membangun karakter kepemimpinan.
1. Bereskan Hal Kecil Lebih Dahulu
Bagaimana cara memulai sesuatu? Anda harus memulai dengan memperhatikan hal-hal yang kecil. Sama halnya seperti kepemimpinan, Anda harus mulai dengan yang kecil dan meningkatkannya secara bertahap. “Mulailah mengerjakan apa yang perlu, kemudian lakukan apa yang bisa dikerjakan dan tiba-tiba Anda akan mampu mengerjakan apa yang tidak mungkin Anda kerjakan”. Napoleon berkata, “Satu-satunya penaklukan permanen dan tidak menyisakan penyesalan adalah penaklukan atas diri sendiri”.
2. Kearifan
Kearifan merupakan kemampuan menemukan akar dari masalah. Tergantung pada intuisi dan pikiran yang sehat serta rasional. Kearifan dibutuhkan untuk memaksimalkan efektivitas. Temukan akar masalah, tingkatkan kemampuan menyelesaikan akar masalah, evaluasilah opsi Anda untuk memperoleh pengaruh maksimal, dan terakhir gandakan peluang Anda.
3. Karakter adalah Segalanya
Jawabannya terletak pada kualitas karakter setiap orang! Ukuran kepemimpinan yang sejati adalah kemampuan persuasi Anda, tidak lebih & tidak kurang. Pupuklah kualitas karakter yang diperlukan untuk menjadi seorang pemimpin, jadilah seorang yang berhasil dan memiliki kemauan keras.
4. Mengembangkan Orang Lain
Orang yang bertujuan dan berusaha mengembangkan nilai orang lain menghargai apa yang dihargai sesama tim. Orang yang mengembangkan orang lain menambahkan nilai bagi sesama tim mereka. Orang yang mengembangkan orang lain membuat diri mereka jadi lebih berharga. Bayangkan betapa seseorang akan menghargai Anda yang telah membantu menunjukkan kekuatan mereka dan membantu mereka mengembangkannya.
   
5. Kemampuan Untuk Tetap Fokus
Kunci untuk menjadi pemimpin efektif adalah kemampuannya dalam menetapkan prioritas & keahlian berkonsentrasi. Para pemimpin sukses yang efektif telah menginvestasikan waktu dalam jumlah yang besar untuk fokus pada apa yang bisa mereka kerjakan dengan baik. Berfokuslah pada kekuatan Anda dan kembangkan hal itu. Tetapkan prioritas Anda dan fokuslah pada kekuatan Anda pada hari ini.
6. Kejelasan Visi
Visi adalah segalanya bagi seorang pemimpin karena visilah yang memimpin seorang pemimpin. Visi memicu dan menjadi bahan bakar utama dalam diri untuk berkembang. Visi memiliki fungsi sebagai pemicu dan pendorong semangat bagi orang lain untuk mengikuti si pemimpin. Tanpa visi, seseorang hanya akan berputar-putar dalam lingkaran yang menjebak. Seandainya Anda dapat pergi kemana saja, lalu kemana Anda ingin pergi? Akankan Anda memilih suatu tujuan dan mengarah pada tujuan itu, atau membiarkan diri sendiri tersapu bersama air pasang, membiarkan orang lain menentukan kemana Anda akan menuju. Pilihan itu terserah pada Anda sendiri.
Referensi :  

Jumat, 18 Maret 2016

Konsep pemasaran secara umum dan Dasar dasar pemasaran Syariah




“Konsep Pemasaran dan Dasar Pemasaran Syariah”



Nama             : Meytha Laelasari
Npm                : 36214615
Kelas               : 2dd02
Matakuliah    : Pemasaran Usaha Syariah
Dosen              : Supriyo Hartadi W





A.   Pengertian Pemasaran

1.                  Pemasaran adalah aktivitas, serangkaian institusi, dan proses menciptakan, mengomunikasikan, menyampaikan, dan mempertukarkan tawaran yang bernilai bagi pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat umum.
Pemasaran dimulai dengan pemenuhan kebutuhan manusia yang kemudian bertumbuh menjadi keinginan manusia. Contohnya, seorang manusia membutuhkan air dalam memenuhi kebutuhan dahaganya. Jika ada segelas air maka kebutuhan dahaganya akan terpenuhi. Namun manusia tidak hanya ingin memenuhi kebutuhannya namun juga ingin memenuhi keinginannya yaitu misalnya segelas air merek Aqua yang bersih dan mudah dibawa. Maka manusia ini memilih Aqua botol yang sesuai dengan kebutuhan dalam dahaga dan sesuai dengan keinginannya yang juga mudah dibawa.
Proses dalam pemenuhan kebutuhan dan keinginan manusia inilah yang menjadi konsep pemasaran. Mulai dari pemenuhan produk (product), penetapan harga (price), pengiriman barang (place), dan mempromosikan barang (promotion). Seseorang yang bekerja dibidang pemasaran disebut pemasar. Pemasar ini sebaiknya memiliki pengetahuan dalam konsep dan prinsip pemasaran agar kegiatan pemasaran dapat tercapai sesuai dengan kebutuhan dan keinginan manusia terutama pihak konsumen yang dituju.
Strategi pemasaran merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan dimana strategi pemasaran merupakan suatu cara mencapai tujuan dari sebuah perusahaan, karna potensi untuk menjual proposisi terbatas pada jumlah orang yang mengetahui hal tersebut. Hal ini juga didukung oleh pendapat Swastha “Strategi adalah serangkaian rancangan besar yang menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan harus beroperasi untuk mencapai tujuannya. Sehingga dalam menjalankan usaha kecil khususnya diperlukan adanya pengembangan melalui strategi pemasarannya. Karena pada saat kondisi kritis justru usaha kecillah yang mampu memberikan pertumbuhan terhadap pendapatan masyarakat.
Pemasaran menurut W. Y. Stanton pemasaran adalah sesuatu yang meliputi seluruh sistem yang berhubungan dengan tujuan untuk merencanakan dan menentukan harga sampai dengan mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang bisa memuaskan kebutuhan pembeli aktual maupun potensial. Berdasarkan definisi di atas, proses pemasaran dimulai dari menemukan apa yang diinginkan oleh konsumen. Yang akhirnya pemasaran memiliki tujuan yaitu :
1.     Konsumen potensial mengetahui secara detail produk yang kita hasilkan dan perusahaan dapat menyediakan semua permintaan mereka atas produk yang dihasilkan.
2.     Perusahaan dapat menjelaskan secara detail semua kegiatan yang berhubungan dengan pemasaran. Kegiatan pemasaran ini meliputi berbagai kegiatan, mulai dari penjelasan mengenai produk, desain produk, promosi produk, pengiklanan produk, komunikasi kepada konsumen, sampai pengiriman produk agar sampai ke tangan konsumen secara cepat.
3.     Mengenal dan memahami konsumen sedemikian rupa sehingga produk cocok dengannya dan dapat terjual dengan sendirinya.
Pada umumnya kegiatan pemasaran berkaitan dengan koordinasi beberapa kegiatan bisnis. Strategi pemasaran ini dipengaruhi oleh faktor-faktor sebagai berikut :
1.     Faktor mikro, yaitu perantara pemasaran, pemasok, pesaing dan masyarakat
2.     Faktor makro, yaitu demografi/ekonomi, politik/hukum, teknologi/fisik dan sosial/budaya.
Berikut ini adalah hal-hal yang perlu diperhatikan untuk pemasaran : Dari sudut pandang penjual :
1.     Tempat yang strategis (place),
2.     Produk yang bermutu (product),
3.     Harga yang kompetitif (price), dan
4.     Promosi yang gencar (promotion).
Dari sudut pandang konsumen :
1.     Kebutuhan dan keinginan konsumen (customer needs and wants),
2.     Biaya konsumen (cost to the customer),
3.     Kenyamanan (convenience), dan
4.     Komunikasi (comunication).
Dari apa yang sudah dibahas di atas ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, bahwa pembuatan produk atau jasa yang diinginkan oleh konsumen harus menjadi fokus kegiatan operasional maupun perencanaan suatu perusahaan. Pemasaran yang berkesinambungan harus adanya koordinasi yang baik dengan berbagai departemen (tidak hanya di bagian pemasaran saja), sehingga dapat menciptakan sinergi di dalam upaya melakukan kegiatan pemasaran.
Pemasaran pada praktiknya sudah ada sejak zaman peradaban kuno. Bangsa Yunani kuno dan Romawi telah mempraktikan ilmu dagang dan secara aktif berkomunikasi persuasif kepada konsumennya. Begitu pula di peradaban-peradaban lain yang maju perdagangannya.
Namun, konsep pemasaran moderen yang dikenal saat ini baru muncul dan berkembang pada masa Revolusi Industri yang terjadi pada abad ke-18 dan ke-19. Periode ini ditandai dengan munculnya perubahan-perubahan sosial yang didorong oleh perkembangan teknologi dan inovasi ilmu pengetahuan. Salah satu perubahan tersebut adalah munculnya industri-industri yang memproduksi barang konsumsi secara massa. Hal ini didukung pula oleh perkembangan moda transportasi dan munculnya media massa yang mengharuskan produsen menemukan cara mengelola distribusi barang dan jasa. Pada masa Revolusi Industri, barang-barang konsumsi masih tergolong langka dan produsen bisa menjual hampir semua barang yang mereka produksi selama konsumen mampu membelinya. Karena itu, mereka fokus ke arah pengembangan produksi dan distribusi dengan berusaha menekan biaya sekecil-kecilnya. Ini juga berpengaruh terhadap perkembangan ilmu pemasaran.
Sejak awal abad ke-20 hingga beberapa tahun pasca Perang Dunia II, kompetisi bisnis semakin meningkat dan fokus ilmu pemasaran mulai pindah dari fokus produksi ke fokus penjualan. Ilmu komunikasi, periklanan, dan merek mulai menjadi penting saat perusahaan berusaha menjual sebanyak-banyaknya barang di pasar yang sudah semakin ramai.

Ada beberapa definisi mengenai pemasaran diantaranya adalah :
a. Philip Kotler (Marketing) pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
b. Menurut Philip Kotler dan Amstrong pemasaran adalah sebagai suatu proses sosial dan managerial yang membuat individu dan kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan lewat penciptaan dan pertukaran timbal balik produk dan nilai dengan orang lain.
c. Pemasaran adalah suatu sistem total dari kegiatan bisnis yang dirancang untuk merencanakan, menentukan harga, promosi dan mendistribusikan barang- barang yang dapat memuaskan keinginan dan mencapai pasar sasaran serta tujuan perusahaan.
d. Menurut W Stanton pemasaran adalah sistem keseluruhan dari kegiatan usaha yang ditujukan untuk merencanakan, menentukan harga, mempromosikan dan mendistribusikan barang dan jasa yang dapat memuaskan kebutuhan pembeli maupun pembeli potensial.

Manajemen Pemasaran
Manajemen pemasaran berasal dari dua kata yaitu manajemen dan pemasaran. Menurut Kotler dan Armstrong pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi, dan pengendalian dari program-program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan memelihara pertukaran yang menguntungkan dengan pembeli sasaran untuk mencapai tujuan perusahaan.Sedangakan manajemen adalah proses perencanaan (Planning), pengorganisasian (organizing) penggerakan (Actuating) dan pengawasan.
Jadi dapat diartikan bahwa Manajemen Pemasaran adalah sebagai analisis, perencanaan, penerapan, dan pengendalian program yang dirancang untuk menciptakan, membangun, dan mempertahankan pertukaran yang menguntungkan dengan pasar sasaran dengan maksud untuk mencapai tujuan – tujuan organisasi.

2.      Menciptakan Nilai dan kepuasan pelanggan

Lima dimensi spesifik dari pelayanan(jasa). Kepuasan lebih inklusif, yaitu kepuasan di tentukan oleh persepsi terhadap kualitas pelayanan (jasa) , kualitas  produk ,harga, faktor situasi dan faktor pribadi. Customer Satisfaction Model Konsep kepuasan pelanggan dari zeithaml dan Bitner ini di gunakan dalam  penelitian karena dimensi-dimensi yang mempengaruhi kepuasan pelanggan mewakili objek penelitian
.
Lovelock (2005: 102) menjelaskan bahwa kepuasan adalah keadaan emosional, reaksi pasca pembelian mereka dapat berupa kemarahan, ketidakpuasan,kejengkelan, netralitas, kegembiraan atau kesenangan. Tidak mengherankan bahwa perusahaan telah menjadi terosebsi dengan kepuasan  pelanggan, mengingat hubungannya yang langsung dengan kesetiaan pelanggan,  pangsa pasar dan keuntungan. Schisffman dan Kanuk (2004: 14) menandaskan  bahwa kepuasan pelanggan merupakan perasaan seseorang terhadap kinerja dari suatu produk yang dirasakan dan diharapkannya.
Jadi dari definisi definisi diatas artinya adalah jika perasaan seseorang tersebut memenuhi atau bahkan melebihi harapannya maka seseorang tersebut dapat dikatakan puas.


Aspek-aspek yang dapat mempengaruhi kepuasan pelanggan secara efektif (Bhote, 1996: 56), yaitu : 
1.Warranty costs
Beberapa perusahaan dalam menangani warranty costs  produk/jasa mereka dilakukan melalui persentase penjualan. Kegagalan  perusahaan dalam memberi kepuasan kepada pelanggan biasanya karena  perusahaan tidak memberi jaminan terhadap produk yang mereka jual kepada pelanggan.
2.Penanganan terhadap komplain dari pelanggan. Secara statistic hal ini  penting untuk diperhatikan, namun seringkali terlambat bagi perusahaan untuk menyadarinya. Bila komplain/klaim dari pelanggan tidak secepatnya diatasi, maka customer defections tidak dapat dicegah.
3.Market Share
Merupakan hal yang harus diukur dan berkaitan dengan kinerja perusahaan. Jika market share diukur, maka yang diukur adalah kuantitas, bukan kualitas dari pelayanan perusahaan.
4.Costs of poor quality
Hal ini dapat bernilai memuaskan bila biaya untuk defecting customer dapat diperkirakan.
5.Industry reports Terdapat banyak jenis dan industry reports ini, seperti yang disampaikan oleh J.D Power dalam Bhote, yakni report yang fairest, most accurate, dan most eagerly yang dibuat oleh perusahaan. Guilitnan (1997:7) mengemukakan bahwa salah satu manfaat dari kepuasan pelanggan ini adalah dapat meningkatkan loyalitas pelanggan, seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini. Sedangkan Lovelock (2005:104) mengemukakan bahwa kepuasan  pelanggan memberikan banyak manfaat bagi perusahaan, dan tingkat kepuasan Bagan Konsekuensi Kepuasan pelanggan yang lebih besar. Dalam jangka panjang, akan lebih menguntungkan mempertahankan pelanggan yang baik daripada terus menerus menarik dan membina pelanggan baru untuk menggantikan pelanggan yang pergi. Pelanggan yang sangat puas akan menyebarkan cerita positif dari mulut ke mulut dan malah akan menjadi iklan berjalan dan berbicara bagi suatu perusahaan, yang akan menurunkan biaya untuk menarik pelanggan baru seperti yang terlihat pada gambar di bawah ini mengenai manfaat dari kepuasan pelanggan. Jadi dari beberapa teori diatas dapat disimpulkan salah satu manfaat dari kepuasan pelanggan yaitu dapat meningkatkan loyalitas pelanggan sehingga dapat disimpulkan pula bahwa kepuasan pelanggan itu sendiri dapat mempengaruhi loyalitas pelanggan. Manfaat Pengukuran Kepuasan Pelanggan Ukuran kepuasan pelanggan dapat dikategorikan sebagai kurang puas,  puas dan sangat puas
1.Mempelajari persepsi masing-masing pelanggan terhadap mutu pelayanan yang dicari,diminati dan diterima atau tidak di terima pelanggan,yang akhirnya pelanggan merasa puas dan terus melakukan kerja sama.
2.Mengetahui kebutuhan,keinginan, persyaratan, dan harapan pelanggan  pada saat sekarang dan masa yang akan datang yang disediakan  perusahaan yang sesungguhnya dengan harapan pelanggan atas pelayanan yang diterima.
3.Meningkatkan mutu pelayanan sesuai dengan harapan-harapan pelanggan.
4.Menyusun rencana kerja dan menyempurnakan kualitas pelayanan dimasa akan datang. Mengukur Kepuasan Pelanggan Ada beberapa metode yang dapat dipergunakan setiap perusahaan untuk mengukur dan memantau kepuasan pelanggannya dan pelanggan perusahaan  pesaing. Kotler (2002: 42), mengemukakan 4 metode untuk mengukur kepuasan  pelanggan, yaitu:
1.Sistem keluhan dan saran
Sebuah perusahaan yang berfokus pada pelanggan mempermudah  pelanggannya untuk memberikan saran, pendapat dan keluhan mereka.Media yang di gunakan meliputi kotak saran yang di letakkan di tempat-tempat strategis,menyediakan kartu komentar,saluran telepon khusus dan sebagainya.Tetapi karena metode ini cenderung pasif,maka sulit mendapatkan gambaran lengkap mengenai kepuasan dan tidak kepuasan pelanggan.Tidak semua pelanggan yang tidak puas lantas akan menyampaikan keluhannya.Bisa saja mereka langsung beralih ke  perusahaan lain dan tidak akan menjadi pelanggan perusahaan tersebut lagi.
2.Survei kepuasan pelanggan
Umumnya banyak penelitian mengenai kepuasan pelanggan di lakukan dengan menggunakan metode survei baik melalui pos,telepon maupun wawancara pribadi. Pengukuran kepuasan pelanggan melalui metode ini dapat dilakukan dengan berbagai cara (Kotler, 2002:15) diantaranya :
a.Directly Reported Satisfaction
Pengukuran dilakukan secara langsung melalui pertanyaan.  
b.Derived Dissatisfaction
Pertanyaan yang di ajukan menyangkut 2 hal utama, yaitu besarnya harapan pelanggan terhadap atribut tertentu dan besarnya kinerja yang telah mereka rasakan atau terima.
 c. Problem Analysis
d.Pelanggan yang dijadikan responden diminta untuk mengungkapkan 2 hal  pokok,yaitu : masalah-masalah yang mereka hadapi berkaitan dengan  penawaran dari menajemen perusahaan dan saran-saran untuk melakukan  perbaikan.
e. Importance-Performance Analysis
Dalam tehnik ini responden diminta meranking berbagai elemen dari  penawaran berdasarkan derajat pentingnya setiap elemen tersebut. Selain itu juga, responden diminta merangking seberapa baik kinerja perusahaan dalam masing-masing elemen tersebut.
3.Belanja siluman (Ghost shopping).
Metode ini dilaksanakan dengan cara memperkerjakan beberapa orang
(ghost shopper)
untuk berperan atau bersikap sebagai pelanggan potensial  produk perusahaan dan pesaing. Lalu
 ghost shopper tersebut menyampaikan temuan-temuannya mengenai kekuatan dan kelemahan  produk perusahaan pesaing berdasarkan pengalaman mereka dalam  pembelian produk-produk tersebut. Selain itu para ghost shopper  juga datang melihat langsung bagaimana karyawan berinteraksi dan memperlakukan para pelanggannya.Tentunya karyawan tidak boleh tahu kalau atasannya baru melakukan penilaian akan menjadi bias.
4.Analisis pelanggan yang hilang  (lost customer analysis)
 Pihak perusahaan berusaha menghubungi para pelanggannya yang sudah  berhenti menjadi pelanggan atau beralih ke perusahaan lain. Yang di harapkan adalah memperoleh informasi bagi perusahaan untuk mengambil kebijakan selanjutnya dalam rangka meningkatkan kepuasan dan loyalitas  pelanggan. Menurut Tjiptono (2002 : 24) terciptanya kepuasan dapat memberikan  beberapa manfaat diantaranya hubungan antara perusahaan dan pelanggan menjadi harmonis, menjadi dasar bagi pembelian ulang dan menciptakan loyalitas  pelanggan serta rekomendasi dari mulut ke mulut yang menguntungkan  perusahaan. Kotler (2003 : 140) juga mengemukakan bahwa hubungan antara kepuasan dan loyalitas adalah saat dimana konsumen mencapai tingkat kepuasan tertinggi yang menimbulkan ikatan emosi yang kuatdan komitmen jangka panjang

3.      Lingkungan pemasaran mikro dan makro
Definisi Lingkungan Pemasaran suatu Perusahaan :
Pelaku-pelaku  (aktor) dan kekuatan-kekuatan yang berada diluar fungsi manajemen pemasaran perusahaan yg akan mempengaruhi kemampuan manajemen pemasaran untuk mengembangkan dan membina transaksi yang berhasil dengan para pelanggan  sasarannya.

A. LINGKUNGAN PEMASARAN meliputi :
1. Lingkungan Mikro
Yaitu berbagai kekuatan yg dekat dengan perusahaan yang mempengaruhi kemampuannya untuk melayani pelanggan, terdiri dari :



a. Perusahaan
Dalam merumuskan rencana pemasaran harus memperhitungkan kelompok-kelompok lainnya dalam perusahaan misalnya; Manajemen Puncak, Keuangan, R & D, Pembelian, Produksi dan Akuntansi, dll.
Bagian-bagian ini membentuk suatu lingkungan mikro suatu perusahaan untuk perencana pemasaran.

b. Pemasok
Adalah perusahaan bisnis dan perorangan yg menyediakan sumberdaya yg dibutuhkan oleh perusahaan dan pesaingnya untuk memproduksi barang dan jasa tertentu.

c. Perantara
Perantara Pemasaran adalah mereka yg membantu perusahaan dalam mempromosikan, menjual, dan mendistribusikan barang kepada pembeli akhir. Para perantara ini meliputi :
-          Middleman, perusahaan yg membantu mdpt pelanggan
-         Perusahaan Distribusi Fisik, membantu perusahaan dlm menyediakan & memindahkan barang dari tempat asal ke tempat tujuan.
-         Biro Jasa Pemasaran, meliputi perusahaan riset, biro iklan, perusahaan media, dan perusahaan konsultan pemasaran, mencarikan sasaran dan menpromosikan produk ke pasar sasaran secara tepat.
-         Perantara Keuangan, meliputi bank, perusahaan kredit, perusahaan asuransi, dll dalam membantu transaksi keuangan dan atau menanggung resiko sehubungan dengan pembelian dan penjualan barang.

d. Pelanggan
Yaitu sejumlah individu, kelompok, organisasi yang        menkonsumsi suatu produk.
Perusahaan dapat beroperasi pada lima jenis pasar;
-         pasar konsumen,
-         pasar industri,
-         pasar reseller,
-         pasar pemerintah,
-         pasar internasional.

e. Pesaing
Yaitu individu, kelompok, organisasi yang sama-sama    melakukan pemasaran kepada konsumen.

f.  Masyarakat (publik)
Yaitu suatu kelompok yg memiliki minat nyata atau potensial yg berpengaruh terhadap kemampuan organisasi untuk mencapai sasarannya.

Tujuh jenis publik yg mengelilingi perusahaan antara lain :
-         publik keuangan
-         publik media
-         publik pemerintah
-         publik kekuatan warga
-         publik local
-         publik umum
-         publik internal

2.   LINGKUNGAN MAKRO
Yaitu kekuatan masyarakat yg lebih luas yg mempengaruhi seluruh lingkungan mikro pemasaran perusahaan yang mempunyai pengaruh tidak langsung terhadap pemasaran.

Lingkungan makro terdiri dari :
a. Demografi
Adalah bidang studi tentang populasi manusia menurut besar, kepadatan, lokasi, umur, jenis kelamin, pekerjaan, dan statistik lainnya.
b. Geografi
Yaitu lingkungan yang dibedakan berdasarkan letak wilayah.

c. Ekonomi
Yaitu factor-faktor yang mepengaruhi daya beli dan pola pembelanjaan konsumen. Daya beli total tergantung pada pendapatan, harga, tabungan, dan kredit pada waktu yang bersangkutan.
Pemasar harus mengetahui kecenderungan utama dalam pendapatan, dan harus selalu sadar akan adanya pola pembelanjaan konsumrn yang terus berubah.

d. Lingkungan Teknologi
Yaitu terdiri dari kekuatan-kekuatan yg mempengaruhi teknologi baru, yang menciptakan produk baru dan peluang-peluang pasar yang baru. Pemasar harus memperhatikan kecenderungan-kecenderungan teknologi berikutnya, antara lain :
-      cepatnya laju perubahan teknologi
-      peluang-peluang yang tak terbatas
-      tingginya anggaran litbang
-      meningkatnya peraturan
-      dll

e. Politik
Lingkungan ini terdiri dari undang-undang, instansi pemerintah, dan kelompok penekan yg mempengaruhi dan membatasi organisasi dan pribadi dalam masyarakat.
Kecenderungan politik utama yg mempengaruhi manajemen pemasaran adalah :
-      undang-undang yg mengatur perusahaan
-      perubahan pelaksaan undang-undang
pertumbuhan kelompok pembela kepentingan publik

f. Lingkungan  Budaya
Lingkungan budaya (cultural) terdiri dari lembaga-lembaga dan kekuatan lain yg mempengaruhi nilai dasar, persepsi, preferensi, dan perilaku masyarakat.




MENGHADAPI LINGKUNGAN PEMASARAN

1. Sebagai lingkungan yg tidak bisa dikendalikan, perusahaan harus menyesuaikan diri, misalnya :
-         lingkungan geografi,
-         dan lingkungan demografi
2. Sebagai lingkungan yg bisa dikendalikan, sehingga perusahaan mengambil langkah agresif untuk mempengaruhi lingkungan, misalnya :
-         konsumen,
-         dan pemasok

B.   Dasar Pemasaran syariah

1.                  Dari Era rasional, emosional dan Spiritual
Pasar syariah adalah pasar yang emosional ( emotional market ) , sedangkan pasar konvensional adalah pasar yang rasional ( rational market ).Maksudnya orang tertarik untuk berbisnis pada pasar syariah karena alasan-alasan keagamaan yang lebih bersifat emosional , bukan karena ingin mendapatkan keuntungan finansial yang rasional. Sebaliknya,pada pasar konvensional atau non-syariah , orang ingin mendapatkan keuntungan financial yang sebesar-besarnya, tanpa terlalu peduli apakah bisnis yang digelutinya tersebut mungkin menyimpang atau malah bertentangan dengan ajaran agama nya(Islam).Ketika seorang nasabah rasional mendapatkan informasi bahwa suku bunga perbankan (konvensional) sedang tinggi , ia menarik dananya di bank syariah dan memindahkannya ke bank konvensional.Teori pemasaran konvensional mengatakan ini adalah sikap yang rasional karena dia mencoba menghindar dari situasi yang kurang menguntungkan. Ini juga bisa dikatakan cara berpikir emosional,karena hanya mempertimbangkan keuntungan dunia tetapi mengabaikan keuntungan akhirat.Sebaliknya seorang nasabah yang menurut sebagian pihak emosional karena mengedepankan nilai-nilai ajaran agamanya(Islam) dalam setiap pengambilan keputusan investasi ,sebenarnya mempunyai dua perspektif waktu.Pertama, perspektif waktu sekarang,yaitu ketika ia masih hidup didunia.Kedua,perspektif waktu setelah mati yaitu periode sejak nasabah meninggal atau kehidupan alam kubur sampai dengan waktu saat manusia akan dihitung amal baik dan buruknya selama hidup didunia (dihisab).Adanya perspektif waktu setelah mati pada nasabah Muslim inidapat menjelaskan mengapa seorang nasabah bank syariah bahkan bisa menerima keuntungan yang nilainya lebih kecil sepanjang hal itu halal.Praktik bisnis dan pemasaran sebenarnya bergeser dan mengalami transformasi dari level intelektual (rasional) , ke emosional , dan akhirnya ke spiritual.Pada akhirnya,konsumen akan mempertimbangkan kesesuaian produk dan jasa terhadap nilai-nilai spiritual yang diyakininya.Dilevel intelektual ,pemasaran memang menjadi seperti “robot” dengan mengandalkan kekuatan logika dan konsep-konsep keilmuan.Dilevel intelektual (rasional),pemasar menyikapi pemasaran secara fungsional-teknikal dengan menggunakan sejumlah tools pemasaran seperti , segmentansi ,targeting ,positioning, marketing-mix, branding, dan sebagainya.Dilevel emosional ,kemampuan pemasar dalam memahami emosi dan perasaan pelanggan menjadi penting.Jika di level intelektual pemasaran layaknya sebuah “robot” ,di level emosional pemasaran menjadi seperti ”manusia” yang berperasaan dan empatik.Beberapa konsep pemasaran yang ada pada level emosional ini antara lain experiential marketing dan emotional branding.Spiritual marketing merupakan tingkatan tertinggi.Orang tidak semata-mata  menghitung lagi untung atau rugi , tidak terpengaruh lagi dengan hal-hal yang bersifat duniawi.Dalam bahasa syariah ,spiritual marketing adalah tingkatan “pemasaran langit:” , yang karena didalam keseluruhan prosesnya tidak ada yang bertentangan  dengan prinsip-prinsip muamalah(bisnis syariah)., ia mengandung nilai-nilai ibadah ,yang menjadikannya berada pada puncak tertinggi dalam pemasaran atau muamalah.

2.      Spiritual marketing sebagai jiwa baru
Menurut Stephen R Covey,penulis buku legendaries , The 7 habbit of highly effective people.Di penghujung puncak kariernya sebagai konsultan kelas dunia, ia menerbitkan buku baru ,The 8th habbit : From effectiveness to greatness. Covey akhirnya berkesimpulan bahwa factor spiritual merupakan factor kunci terakhir yang harus dimiliki seorang pemimpin dalam suatu perusahaan.Ia menyebutnya dengan “voice”. Seorang pemimpin harus memiliki empat style yaitu pathfinding (perintisan),aligning (penyelarasan),empowering (pemberdayaan),dan modeling (panutan).Pada bagian akhir inilah Covey kemudian menyadari bahwa untuk menjadi pemimpin yang bisa jadi panutan (modeling),seorang pemimpin haruslah memimpin berdasarkan prinsip.Pemimpin harus mampu menyatukan kata dengan perbuatan, dan pemimpin adalah orang yang layak dipercaya.Kata kunci untuk semua ini adalah kejujuran yang senantiasa menjadi bagian dari nilai-nilai spiritual.Sebenarnya spiritual marketing ini dapat kita laksanakan dengan optimal jika dalam segala aktivitas sehari-hari kita menempatkan Tuhan sebagai holder utama.Inilah perbedaan pokok antara pemasaran biasa dan spiritual marketing.Kita menempatkan Tuhan sebagai satu-satunya pemilik kepentingan ( the ultimate stake holder).
3.  Karakteristik syariah marketing
Ada 4 karakteristik syariah marketing yang dapat menjadi panduan bagi para pemasar sebagai berikut :
1.Teistis ( rabbaniyyah )
2.Etis (akhalaqiyyah)
3.Realistis ( Al-waqi’iyyah)
4.Humanistis (Al-sinsaniyyah)
1.     Teistis ( Rabbaniyyah )
Salah satu ciri khas syariah marketing yang tidak dimiliki dalam pemasaran konvensional yang dikenal selama ini adalah sifatnya yang religious(diniyyah).Kondisi ini tercipta tidak karena keterpaksaan ,tetapi berangkat dari kesadaran akan nilai-nilai religious,yang dipandang penting dan mewarnai aktivitas pemasaran agar tidak terperosok kedalam perbuatan yang dapat merugikan orang lain.Jiwa seorang syariah marketer meyakini bahwa hukum-hukum syariat yang teistis atau bersifat ketuhanan ini adalah hukum yang paling adil,paling sempurna,paling selaras dengan segala bentuk kebaikan,paling dapat mencegah segala bentuk kerusakan,paling mampu mewujudkan kebenaran , memusnahkan kebatilan dan menyebarluaskan kemasalahan.Karena merasa cukup akan segala kesempurnaan dan kebaikannya,dia rela melaksanakannya.
3.      Etis (Akhalaqiyyah)
4.      Keistimewaan yang lain dari syariah marketer selain karena teistis (rabbaniyyah),juga karena ia sangat mengedepankan masalah akhlak(moral,etika)dalam seluruh aspek kegiatannya.Kasus Enron, WorldCom ,Global Crossing,serta beberapa kasus korupsi dinegara kita menunjukkan bahwa nilai-nilai etika dan moral sudah tidak lahi menjadi pedoman dalam berbisnis.Segala cara dihalalkan asalkan bisa mendapatkan keuntungan financial yang sebesar-besarnya.Sifat etis ini  sebenarnya merupakan turunan dari sifat teitis (rabbaniyyah)diatas.Dengan demikian syariah marketing adalah konsep pemasaran yang sangat mengedepankan nilai-nilai moral dan etika,tidak peduli apapun agamanya.Karena nilai-nilai moral dan etika adalah nilai yang bersifat universal,yang diajarkan oleh semua agama.
5.      Realistis (Al-Waq’iyyah)
6.      Syariah marketing bukanlah konsep yang eksklusif,fanatis,anti-modernitas,dan kaku.Syariah marketing adalah konsep pemsaran yang fleksibel sebagaimana keluasan dan keluwesan syariah Islamiyah yang melandasinya.
7.      Syariah marketer bukanlah berarti pemasar itu harus berpenampilan ala bangsa Arab dan mengharamkan dasi karena dianggap symbol masyarakat barat,misalnya.Syariah marketer adalah para pemasar professional dengan penampilan yang bersih rapi,dan bersahaja ,apapun model atau gaya berpakaian yang dikenakannya.Mereka bekerja dengan professional dan mengedepankan nilai-nilai religius,kesalehan,aspek moral,dan kejujuran dalam segala aktivitas pemasarannya.Ia tidak kaku,tidak eksklusif tetapi sangat fleksibel dan luwes dalam besikap dan bergaul.Ia sangat memahami bahwa dalam situasi pergaulan di lingkungan yang sangat heterogen,dengan bergam suku,agama,dan ras,ada ajaran yang diberikan oleh Allah Swt ,dan dicontohkan oleh Nabi untuk bisa bersikap lebih bersahabat,santun,dan simpatik terhadap saudara-saudaranya dari umat lain.Ada sejumlah pedoman dalam kemunafikan,kecurangan,kebohongan,atau penipuan yang sudah biasa terjadi dalam dunia bisnis.Akan tetapi,syariah marketing berusaha tegar,istiqamah,dan menjadi cahaya penerang ditengah-tengah kegelapan.
8.      Humanistis (Al-insaniyyah)
Keistimewaan syariah marketing yang lain adalah sifatnya yangsifatnya humanistis dan universal.Pengertian humanistis (al-insaniyyah) adalah bahwa syariah diciptakan untuk manusia agar derajatnya terangkat,sifat kemanusiaannya terjaga dan terpelihara,serta sifat kehewanannya dapat terkekang dengan panduan syariah.Dengan memiliki nilai humanistis ia menjadi manusia yang terkontrol dan seimbang (tawazun), bukan manusia yang serakah ,yang menghalalkan segala cara untuk meraih keuntungan yang sebesar-besarnya.Bukan menjadi manusia yang bisa bahagia diatas penderitaan orang lain atau manusia yang hatinya kering dengan kepedulian sosial.Syariat Islam adalah syariah humanistis(insaniyyah).Syariat Islam diciptakan untuk manusia sesuai dengan kapasitasnya tanpa menghiraukan ras, warna kulit ,kebangsaan dan status.Hal inilah yang membuat syariah memiliki sifat universal sehingga menjadi syariat humanistis universal.Diantara dalil-dalil tentang sifat humanistis dan universal syariat Islam adalah prinsip ukhuwwah insaniyyah (persaudaraan antarmanusia ).Islam tidak memedulikan semua factor yang membeda-bedakan manusia,baik asal daerah,warna kulit,maupun status social.Islam mengarahkan seruannya kepada manusia,bukan kepada sekelompok orang tertentu,atas dasar ikatan persaudaraan antar sesama manusia.






























REFERENSI :